Laman

AYOOOO GABUNG SEGERA!!!!!

TABUNGAN HEBOH Ayo segera gabung dan dapatkan Apple IPad bagi 5 member pertama yang memenuhi syarat

Minggu, 16 Mei 2010

KUtIZ [naskah drama]

Panggung sebuah ruang kosong. Arda gadis remaja terseret-seret antara dua kepentingan yang berbeda. Kiri Norman dengan syal hitam, dan kanan Nenek dengan kerudung (bukan jilbab) putih
Norman dan Nenek saling tarik-menarik Arda. Nenek hanya berdiri disatu tempat memegangi tangan Arda. Disisi lain, Norman sibuk melilitkan syalnya ke Arda. Norman bergerak kesana-kemari, berputar dan berguling membentuk sebuah tarian. Kian lama kian rancak diiringi musik menderu dan menburu. Syal hitam dan kerudung putih makin menjerat Arda. Arda terengah, kesal dan gelisah. Tiba-tiba syal dan kerudung terlepas bersamaan. Norman jatuh tertelungkup. Arda jatuh terduduk didepan. Dan Nenek tetap sigap ditempat semula, lalu berjalan dengan tongkatnya dan duduk disisi lain.



yAng pErtAmA

Arda : “Jatuh...…
Tertarik-menarik nafsu…
Hitam dan putih…
Lalu abu-abu mataku…
Tak melihat hitam atau putih…
Butakan saja indra ku!
Agar aku tak lihat warna dari nafsu ku…
Bawakan saja hati kecil ku…
Supaya aku lihat dimana sisi kelam ku!
Aku seperti parlemen sekarang…
Tak dapat bedakan mana sumpah, mana upah…
Yang hitam jadi putih,
Yang putih jadi abu-abu…
Lalu…
Dimana sekarang aku…?
Terus…? Dimana putih ku…?!!!
Dimana hitam ku…?!!!”
Norman : (bangun terduduk) “Hitammu disini, Arda.”
Arda : “Hitam ku,,,,, dinadimu…?”
Nenek : “Itu bukan hitam, cu…! Itu darah… Katanya, darah itu merah…!!!! oh…. (terkekeh) Kamu bingung, cu? Jangan bingung..!! Pandanglah dengan ini…” (memegang dada, lalu batuk)
Norman : “Jangan kau ikut bicara, Nek!! Mengatur nafas saja tidak becus!! Bicaralah diliang lahat!! Pasti banyak cacing dan belatung yang kan mendengarkanmu..!!!”
Nenek : “Tak punya norma juga kau bocah!! Jangan dengar itu, cu!! Kau pasti akan menemukan warnamu…”
Arda : “Semua diam!!! Biarkan aku pandang sendiri…!! Mata ku tidak buta, tidak seperti Nenek!!“
(Arda berjalan kearah penonton, memandang satu demi satu)

Arda : “Tidak ada warna apa – apa …..”
(mengarah pada penonton) “ Woy ……di sana, hitam atau putih??“
Nenek : (terbatuk) “Hitam atau putih tidak disana, tapi disini…..“
(memegang dada lalu terbatuk lagi) “astaghfirullah…. Dasar penyakit tidak berpendidikan, selalu manja…. Tidak mandiri”
Arda : “Artinya kau renta, Nek…..”
Nenek : “Bagus Itu, Cu…. Kau mengakui kalau aku sudah renta artinya aku lebih berpengalaman tentang hitam putih….!!!”
Norman : “Dengan mata butamu?!! mana mungkin…..”

Musik mulai sayup, Arda gamang lalu berjalan ke arah Norman. Nenek melemparkan kerudungnya jatuh di bawah Arda. Arda memungut lalu berjalan ke arah Nenek. Tepat diantara Norman dan Nenek, Arda di lempar syal oleh Norman lalu memungutnya. Saat ini lampu redup bayangan hitam dan putih muncul, merayap, terduduk, terbangun dan berputar – putar mengitari ke tiganya. Norman dan Nenek lambat laun merebahkan raga. Arda tertunduk dan duduk diantara dua kakinya sambil memegang kerudung di tangan kanan dan syal di kiri. Bayang hitam dan putih tadi menelungkupkan lagi raganya dan berbicara berurutan sambil mengangkat kepala dan dada ditopang tangan.

Hitam I : “aku, kemurkaan nikmat dunia”
Putih I : “akulah inti ketentraman di duna dan kelak kau terbangun dari mati“
Hitam II : (menunjuk Putih I) “Itu Kebohongan!! Percayalah pada kami, kebahagiaan hidup“
Putih II : (menunjuk Hitam I) “Kau kemurkaan!! tak pantas kau mengingkari Dzat Tertinggi”
(Hitam dan Putih terbangun dan berdiri)

Hitam I : (menunjuk Arda) “Kau diciptakan untuk bersama kami”
Putih I : “jangan engkau dengar, itu tak ada dalam buku“
Hitam II : “Buku Kemurkaan kami sudah digariskan engkau tak dapat mengelak”
Putih II : “Berpihaklah pada kami, karna kami takkan mengingkari jalan lurus yang digariskan”
(Hitam mendekati Arda, Arda terbangun dari duduknya Syal dan kerudung masih ditangan)

Hitam I : “kami janjikan surga di dunia untukmu….“
(Kerudung dilemparkan dekat nenek yang terkulai oleh Arda, lalu Arda dililit tangannya dengan syal itu oleh Hitam dan dibopong kebelakang panggung. Putih terduduk ditopang kaki)

Putih I : “korban dari nafsu“
Putih II : “dari harta yang tak pernah berharga”
Putih I : “dari kemunafikan”
Putih II : “dari silaunya kehidupan…..”
(lampu mati Hitam pergi membawa Arda, dan lampu menyala lagi)

Nenek dan Norman terduduk ditempat berbeda dalam panggung.
Nenek : “cucuku…..!“ (sendu memeluk tongkatnya)
Norman : “sudahlah!!! Arda pasti baik – baik saja, jangan kau sesali, dia pasti sudah enak”
Nenek : “cucuku ….!” (tetap sendu dan mulai menangis)
Norman : “percuma kau terus begitu!! Kemurkaan akan tetap ada!!” (lalu tertawa lepas)
Suara arda : “nenek ….? “ (hanya suara, menghentikan tawa Norman)
Nenek : (terbangun dari duduknya) “cucuku …. Kau dimana???”

Lalu Nenek berjalan mendekat penonton dan tetap dengan pandangan kosong karena buta

Nenek : “cucuku ada pada kalian?!” (kepada penonton, tapi tetap pandangan kosong)
Suara : “cucumu mati!!!”
Nenek : (terkekeh) “Ah … kalian ini masih tetap begitu, suka ngibul“ (terkekeh lagi)
(gerak – gerik heran) “Aku pikir… kebohongan cuma ada di warung – warung…. Ditawar seratus, dia bilang belinya saja seratus lima puluh…. Padahal dia beli lima puluh“
“Aku kira kebohongan hanya di terminal….. Bus penuh dikatakan kosong…. ”
“Aku kira kebohongan hanya ada di peradilan, berucap sumpah di bawah setumpuk kertas usang,,, anggapannya…”
“Aku juga sedang berfikir, kebohongan hanya ada di perpajakan. Beriklan, apa kata dunia,,, eh kenyataannya, dunia berkata apa”
“Ternyata kebohongan tak hanya di kampanye – kampanye mengemis dukungan, sudah didukung, sudah jadi wakil. Eh, pada lupa”
“Aku juga sempat beranggapan…. Para raja bohong hanya ada di komplek pemerintah… tapi ternyata….. disini juga ada“
“Apa semuanya pindah ke sini??” (dan terkekeh lagi)

Lalu Nenek berjalan dengan tongkat butanya ke tempat semula dan duduk lagi sambil terekeh

Nenek : (tiba-tiba meratap) “cucuku…. Kau dimana?” (sambil melilitkan kerudungnya dileher)

Tiba – tiba Arda datang ……

Arda : “Nenek….!!! Aku mohon jangan bunuh diri….. nenek masih diperlukan disini….. pementasannya masih panjang, Nek!!!”
Nenek : “cucuku ada!! Dia hidup!!!“ (girang)

Dari belakang panggung terdengar benda jatuh, sedikit keras mengagetkan penonton.

Norman :”Bom!!!... Bom!!!… ada teroris melihat pementasan kita!!!” (sambil berjalan ke tangah menggandeng Arda, panik)
Arda : (panik) “Bom!!!”
Nenek : (terkekeh) “Bukan bom, tapi kentut”
Norman : “Kentut? begitukah kerasnya ?”
Nenek : “bahkan, ada yang lebih keras….”
Arda : “ngawur…!!! itu tadi bom!!!”
Nenek : “Kentut…”
Norman : “siapa yang kentut?”
Nenek : “kamu!! kamu yang kentut!! orang kurang ajar seperti kamu pasti kentutnya sekeras bom“
Norman : “Aku kentut? mana mungkin… Aku masih bebas keluar masuk negeri barat! kalau aku kentut sekeras bom pasti aku dicekal masuk negera adidaya!”
Nenek : “kalau begitu kamu yang kentut, cu“
Arda : (tersipu) “Mana mungkin Nek, masa aku kentut didepan orang sebanyak ini?”
Nenek : (kesal) “ya sudah! mungkin aku yang kentut, kentutku bisa sekeras bom!!! bisa juga mengebom laki – laki seperti kamu, sampa mati!!!”

Norman menjauh kembali ke tempat semula. Terduduk, konsentrasi dan jari – jarinya mulai bergerak seraya memainkan piano, piano fantasi. Perhatian Arda mulai tersedot, tertuju pada Norman. Arda mulai bernyanyi seperti sedang tercekik. Diiringi gending Jawa sayup – sayup.

Arda : bernyanyi ( reff lagu Boomerang, Bawalah Aku )
(Lampu redup, mati)



yaNg kE duA

Lampu redup dan mati lampu menyala hanya Nenek yang berada di tengah panggung.
Nenek : “Terhisap oleh nafsu, kelupaskan kesucian hati, tersilau ketenaran, menjadi kemunafikan….. hidup selalu menggoda contoh hijau yang menyilaukan dan kita tak kan pernah puas dengan itu…. Menyedihkan….. manusia tak pernah tecukupi“
(Arda muncul )

Arda : “Nek…..”
Nenek : “dia Lelaki yang tak bertanggung jawab….”
Arda : “dia memberi jalan kesuksesan ku, Nek!!!”
Nenek : “yang memberi jalan itu Allah. Semua sudah digariskan kita tinggal menjalani. Gitu aja kok repot “
Arda : “sudahlah Nek!!! Simpan saja omongan itu diliang lahat. Aku bukan belatung yang mau mendengarkan omong kosong nenek!!”
Nenek : (tersentak, tak percaya) “Arda????”
Arda : “Aku sadar …. Sangat sadar!”
Nenek : “Ya Allah …. Sia – sia“
Arda : “Nenek tak mengerti… dunia hiburan memberiku jalan. Jalan cahaya dari emas“
Nenek : “mengkhayallah sesukamu… bermainlah dalam mimpi – mimpi busukmu itu!!!”
Arda : “mulai sekarang aku akan membuktikan!!! dan mulai sekarang aku lepas”
Nenek : “batalah pergi raga dan pikiran busukmu tapi hatimu tetap disini“

Ada suara yang menghentak lagi, lebih keras, mata Arda tertuju kebelakang layar panggung dan nenek mencari dan cari sumber suara lalu gelap.



yaNg Ke tiGa

Suara : (hanya suara) (saat lampu gelap) “siapa yang kentut? ayo ngaku!! perempuan atau laki – laki?”

Lampu menyala. Ditengah panggung ada sebuah kursi, lambang kesuksesan. Arda muncul berpakaian anggun, rapi dan bagus, dijaga dua pengawal seraya melindungi Arda dari fans – fans dan wartawan. Namun tidak ada, hanya bertiga yang ada dipanggung.

Arda : “No coment…. No coment…. Besok saya akan konferensi pers di gedung The Gold Hypocrite kelas premium lantai 3”

Lama – lama pengawal merenggang seraya fans – fans dan para wartawan menyingkir. Arda duduk di kursi itu.

Arda : “Kalian atur besok….. jadwalku padat… jangan sampai kalian teledor!!”
Nenek : (hanya suara) “Tak ada siapa – siapa, cu! hanya dua manusia bodoh disampingmu ….!!!“
Arda : (kesal) “Diam!!! maksudmu apa, Nek?!!”
Nenek : (hanya suara) “ buka mta hatimu, cu ….!!”
Arda : “Diam!!! sekarang sudah globalisasi, lebih maju…Nenek tau globalisasi?”
Nenek : “Tidak ….!!!“ (terkekekeh) (hanya suara)
Arda : “Kau mesti belajar hidup, nek! Hidup itu enak kalau berkuasa …! ..seperti aku…!!”
Suara Nenek : “Mengkhayal lagi…..“ (hanya suara)

Dari samping panggung ada yang melempar botol minuman kosong ketengah panggung.

Arda : (geram) “kurang ajar kau, Nek!! Hey, kalian sekarang jadi patung? kalian itu aku bayar!! apa kalian tetap diam jika aku dilempar bom?!!!?”

Salah satu pengawal membuka kacamata dan rambut palsunya. Ternyata itu Norman.

Norman : “hebat…, hebat…. Ternyata kau sudah jadi bintang hebat… sudah gampang memecat orang…. Berkuasa itu harus tega… tega menjegal semua yang menghalangi!!”
Arda : “apa – apaan ini?!!“
Norman : “penyamaran itu perlu…”
Arda : “aku tak paham…?”
Norman : “sederhana saja“
Arda : “maksudmu?!!”
Norman : “untuk maju perlu sandaran untuk maju perlu kesempatan, untuk maju perlu kepandaian…curi dan pura – pura seperti orang cerdas….!”
Arda : (mendekati Norman) “Luar biasa….” (Kagum)
Norman : “kau harus tau jasaku, itu ada imbalannya”
Arda : “Aku mengerti…………” (tetap kagum)
Norman : “siapa yang kau perlukan?”
Arda : “mas Norman tentunya…. Siapa yang mas Norman perlukan?” (malu – malu)
Norman : “kamu pasti………..”

Keduanya saling menatap, mendekat, dan birahi menyeruat diantara mereka. Meeka berjalan lambat, tetap saling menatap, masuk kepintu keluar panggung. Dari pintu lain Nenek Masuk dibantu tongkatnya.
Satu persatu pakaian Norman dan Arda secara urut dilempar ke tengah panggung, dari sepatu, kerudung, kemeja, pakaian, celana, satu persatu juga dipunguti oleh pengawal dikumpulkan diatas kursi.

Pengawal : “Keduanya menjadi binatang…. Semua ditanggalkan…. Semua menjadi tak berarti“

Pengawal melepas kedua sepatu, diganti dengan yang kanan sepatu Arda dan kiri sepatu Norman jasnyapun dilepas, diganti yang kanan pakaian Arda dan kiri pakaian Norman.

Nenek : “Kau melupakan takdir…”
Pengawal : “Aku ingin merasakan takdir orang lain”
Nenek : “berjalanlah….”
Pengawal : “Aku tak bisa melangkah…. Kaki kananku perempuan, kaki kiriku laki – laki….”
Nenek : “Artinya kau menolak takdir”
Pengawal : “Tidak aku sedang kompromi dengan takdir…. Antara perempuan dan laki – laki pasti bisa kompromi tapi aku menyesal, kanan dan kiri tak bisa kompromi…. Hebat orang diats langit….” (lemas dan duduk terjatuh)
Nenek : “Kau pernah kesana?“ (heran)
Pengawal : “Sering….”
Nenek : “Kau lihat orang saling kompromi? kau lihat kanan dan kiri saling kompromi kaku lihat kanan dan kiri berjalan bersama?“ (tetap heran)
Pengawal : “Aku melihat semua bersahaja… semua tertib dan tanggung jawab…. Tidak ada pelanggaran nilai, norma dan agama…..“
Nenek : “Tentu damai disana… aman… tertib…. teratur…..”
Pengawal : “Nenek tau kenapa diatas awan seperti itu? karna tak ada yang punya cita-cita… tak ada peraturan… tak ada nilai dan norma…. Norma… juga tak ada agama….karena diatas langit tak ada orang seperti kita“
Nenek : “Aku tau sekarang… kalau mau seperti itu kita hilangkan cita –cita, hilangkan peraturan, tapi nilai, norma dan agama harus tetap ada “

Dari belakang panggung terdengar suara jeritan desahan dan tak lama suata tempat tidur ambruk.
BRAAAAAAKK…!!!!!!!!
Nenek : “Roboh…..”
Pengawal : “Dahsyat“
Nenek : “Amblas”
Pengawal : “Puas”
Nenek : “Bencana“
Pengawal : “Pesona“
Nenek : “Adzab“ (membentak)
Pengawal : “Huh….” (menghela nafas)
Dari belakang panggung terdengar suara Norman dan Arda hanya suara.

Arda : “Sepatu ku…. Pakaian ku….” (merintih)
Norman : “Pakaian ku…. Sepatu ku…. ” (merintih)

Pakaian dan sepatu mereka masih teronggok di kursi. Pengawal melepas dan berniat mengambilkannya

Nenek : “Jangan kau sentuh! Itu Api!”
Pengawal : “Aku harus menjauhinya…”
Nenek mendekati ke kursi, tongkatnya dijulurkan kepakaian itu.

Pengawal : “Itu api jangan sentuh!!”
Nenek : “Ya…. Ini Panas… aku harus menjauhinya….“

Lampu mati

_^ tHe eNd ^_





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger